Akibat Cuaca Ekstrim, Nelayan Enggan Melaut

SITUBONDO, Radarbesuki.com – Angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi di wilayah perairan pantai utara Situbondo akhir-akhir ini, membuat nelayan enggan melaut dan lebih memilih membersihkan atau memperbaiki perahu serta jaring ikan sembari menunggu cuaca kembali normal.

“Cuaca pada musim kemarau seperti saat ini sangat sulit diprediksi. Adanya angin kencang, gelombang tinggi dan hujan yang terjadi akhir-akhir ini, membuat para nelayan di kawasan pesisir Pantai Desa Ketah dan sekitarnya enggan melaut dan lebih memilih untuk membersihkan atau memperbaiki perahu serta jaring ikan,” ungkap seorang nelayan, Mahfud (34) asal Pesisir Desa Ketah, Kecamatan Suboh, Minggu (24/6/2018).

Mahfud mengatakan, kalau pun ada nelayan yang berani melaut, biasanya tidak akan jauh dari bibir pantai. “Sebab cuaca pada musim kemarau seperti saat ini sangat sulit diprediksi. Cuaca buruk serta gelombang tinggi itu bisa datang tiba-tiba, terutama pada sore dan malam hari,” tandasnya.

Menurut Mahfud, selama tidak melaut dan menunggu cuaca normal, sebagian besar nelayan mengisi waktu luang dengan membersihkan atau memperbaiki kapal serta jaring ikan dan untuk bertahan hidup, sejumlah nelayan ada yang beraktivitas mencari kerang atau kepiting di bibir pantai terdekat.

“Sepengalaman dan setahu saya, saat terbaik mencari ikan itu pada saat cuaca panas. Berbeda dengan cuaca seperti saat ini yang cenderung tidak menentu,” bebernya.

Nelayan lainnya, Abdur (43) mengatakan, jika dipaksakan untuk melaut, hasilnya juga tidak akan maksimal dengan resiko terhadap keselamatan jiwa. “Untuk menghindari terjadinya kecelakaan di laut, diam di rumah juga menjadi pilihan sejumlah nelayan sini,” ujarnya.

Sementara Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Situbondo, Gatot Trikorawan mengatakan, dalam menghadapi cuaca buruk seperti angin kencang dan gelombang tinggi, masyarakat diharap untuk lebih mawas diri dan waspada dalam menjalankan aktivitas.

“Peran masyarakat di tengah kondisi cuaca seperti saat ini, sangat dibutuhkan untuk menghadapi resiko dan dampak terjadinya bencana angin puting beliung dan rob. Upayakan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi terkait cuaca baikmelalui media seperti televisi atau lainnya,” tutur Gatot. (kim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *