Besuki, “Ibunya” Kota Empat Kabupaten yang Terabaikan

Un-historisitas?
Besuki, “Ibunya” Kota Empat Kabupaten yang Terabaika

JASMERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Himbauan yang mestinya mampu menggugah kita semua sebagai generasi penerus perjuangan leluhur, rupanya masih belum begitu berpengaruh terhadap pelestarian peninggalan sejarah yang ada di Besuki.

Siapapun yang pernah mengetahui, mendengar atau membaca informasi sejarah tentang masa lalu Besuki yang sekarang sudah menjadi wilayah kecamatan dalam kabupaten Situbondo tentu akan ikut merasa kecewa ketika mengetahui fakta yang ada sekarang. Kondisi situs sejarah warisan para pendahulu yang mestinya dijaga dan dilestarikan banyak mengalami kerusakan, bahkan beberapa diantaranya telah hancur dan musnah. Bangunan-bangunan tua, cerita-cerita yang sempat melegenda, budaya-budaya dan kearifan lokal yang pernah eksis, hingga dokumen-dokumen penting yang mengungkap aktifitas dan eksistensi Besuki kala itu terkesan diabaikan.

Tak bermaksud meniadakan peran pemerintah terkait dalam hal pelestarian situs sejarah ini. Ada beberapa bangunan yang memang dipertahankan, tetapi itu semua sudah dialih fungsikan, dan dalam perjalanannya menunjukkan kesan jauh dari ekspresi kesejarahan. Bangunan sejarah itu adalah kompleks pendopo eks Karesidenan Besuki yang saat ini digunakan sebagai kantor, ruang kelas, dan aula SMA Negeri Besuki dan SMP Negeri 3 Besuki. Situs lainnya adalah bangunan Paseban yang ada di bagian selatan alun-alun Besuki. Bangunan ini sekarang tampak baru karena telah diadakan pemugaran dan pembangunan yang menghilangkan jejak arsitektur aslinya.

Ikhwal di atas seharusnya sudah cukup menggambarkan sikap abai kita sebagai individu maupun institusi yang telah menerima sekaligus mengemban amanah menjaga serta melestarikan sejarah dari para leluhur terhadap Besuki yang notabene pernah menjadi orang tua dari empat kabupaten di sekitarnya, yaitu Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi di masa lalu.

Lebih dari sikap abai yang ditunjukkan oleh generasi dan pemerintahan, ada permasalahan serius yang melandasi sikap abai tersebut. Pertama karena adanya penyumbatan cerita sejarah yang sudah mengarah kepada pembelokan. Sejarah Besuki yang pernah menjadi “Ibu Kota” dari empat kabupten tersebut di atas kini mulai remang mendekati padam.

Aryni Ayu, seorang aktifis Kesejarahan yang juga aktif menulis ini pernah memberikan tanggapannya terkait bahasan ini. Berikut sebagian isi tulisannya yang juga dimuat di radarbesuki.com beberapa waktu lalu:

Dalam politik memori, struktur pemerintahan selalu meninggalkan bagian-bagian dari pemerintahannya. Menurut Pierre Nora dalam The lieux de mémoire (places of memory) (1989), seringkali generasi suatu bangsa akan melihat lingkup geografi, sejarah, sosial, dan ekonomi dalam satu rangkaian cerita di satu situs tertentu. Adapun yang membedakan dari satu cerita itu lebih dititik beratkan pada perspektif dan pengetahuan orang atas situs tersebut.

Besuki, adalah sebuah herritage yang banyak sekali meninggalkan memoir penting bagi generasi penerus hingga terbentuk sebagai bangsa Indonesia. Arnold Toynbee (Civilization of Trial, 1945) menyebut sebuah peradaban merupakan bentuk eksistensi manusia atau masyarakat untuk menjalani tradisi, dan tradisi dapat menjadi cheos (hancur) termakan oleh waktu, dan politik. Tentu tidak akan pernah menjadi prediksi jika dulunya keberadaan besuki sangat penting, sekarang tak lebih dari nama besar yang mulai dilupakan. Ada sebuah memori yang dinonaktifkan disini.

Bukti bukti sejarah menunjukkan, Besuki memang menjadi pusat penting bagi perusahaan yang pernah didirikan Belanda. Sejak tahun 1887 sampai 1950, dari bentuk kota Regentschap (Kabupaten), menjadi Karesidenan di tahun 1950. Perbedaannya, jika di tahun 1887 hingga sebelum runtuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia tahun 1942 Besuki berada dalam kategori the center of town karena kepentingan pengembangan produk produk perkebunan sampai tahun 1917. Maka di tahun selama dan setelah 1942, Besuki tidak lebih dari menjadi bagian dari penyerangan operatie product yang dilaksanakan Belanda dari ujung Barat Banten sampai ujung Timur Besuki (Military Justice in the Dutch East Indies, Steven van Den Bos, 2015). Bentuk dari Karesidenan adalah bentuk penghargaan yang diberikan kolonial atas peran besar Besuki saat menjadi pusat pemerintahan di bagian timur Jawa (Java Oosthoek).

Di tahun 1947, Besuki menjadi tempat yang tenang bagi para kontrolir Belanda untuk melaksanakan rapat rapat penting perkebunan dan sekedar bersantai. Hal ini dapat didasarkan pada catatan Van Baal dalam Ontglipt Verleden (1947) yang menyebutkan bahwa Besuki adalah tempat yang tenang dan memiliki kebijakan pemerintahan yang konstruk. Berdasar laporan Tweede Kamer (Dewan Belanda) (In Koloniaal Verslag Van, 1887), Jember, Besuki, dan Bondowoso pernah menjadi onderafdeling dari Besuki yang saat itu menjadi pusat kontrolir perusahaan perkebunan Belanda, bentuk pusat administrasi. Jadi, posisi Besuki di tahun sebelum 1887 sampai sebelum 1950 adalah kabupaten (Regentschap) yang membawahi beberapa kawedanan. Perlu diketahui, keuntungan dari Besoeki Tabak Maatshappij tahun 1915 mencapai 15.680.551 f (gulden) atau sekitar 2 milyar rupiah (De Graaf, Voor Handel en Maatschapppij : Geschiedenis van de Nederlandsche Handel Maatschappij 1824 1964, 1955).

Berdasarkan catatan-catatan sejarah seperti yang ditulis Aryni di atas dan masih banyak literatur lainnya, serta realita tentang peninggalan sejarah yang terabaikan kemudian mendorong penulis untuk terus menyebarkan pemahaman pentingnya pelestarian sejarah dengan tulisan dan aksi – aksi nyata. Harapan selanjutnya adalah agar kelak Besuki bisa diperlakukan sebagaimana mestinya berdasar pada realita sejarah.

Lebih lanjut penulis akan mengingatkan kembali akibat pengabaian yang secara fisik bisa dilihat dengan mata telanjang. Kerusakan terus terjadi pada bangunan-bangunan kuno yang didirikan masa kolonial, raibnya dokumen-dokumen perdagangan, hingga musnahnya cerita-cerita dari sesepuh yang mengisyaratkan Besuki sebagai orang tua dari empat kabupaten di sekitarnya. Fakta ini mengisyaratkan dimulainya kemusnahan fase peradaban yang pernah ada di tengah masyarakat Besuki. Padahal, kesemua bukti-bukti sejarah yang pernah ada tersebut sejatinya bisa dijadikan acuan dalam menata pembangunan, terutama yang berkaitan dengan perekonomian dan industri perkebunan seperti yang tercatat dalam banyak literatur sejarah.

Situbondo yang sebenarnya mempunyai lebih banyak wewenang sekaligus memikul tanggung jawab terhadap pelestarian peninggalan sejarah nampaknya masih menunjukkan aksi yang setengah hati. Desas desus yang beredar di tengah masyarakat bahwa pemerintah daerah Situbondo mengabaikan Besuki sudah bukan sekedar isu belaka. Sekarang pernyataan itu semakin jelas dan sering terdengar di tengah diskusi-diskusi forum budaya dan sejarah. Bahkan suara-suara serupa mudah di dengar di warung-warung kopi tempat masyarakat berkumpul.

Ada kesan negatif yang ditangkap oleh para pegiat kesejarahan dan kebudayaan dari pernyataan maupun sikap birokrat di Situbondo terkait perlakuan mereka terhadap Besuki. Barrun Faurani atau Lora Iik Selaku Ketua LSM Masyarakat Besuki Kreatif atau MABES Kreatif yang juga keluarga besar Ponpes Miftahul Ulum Rawan Besuki pernah mengungkapkan bahwa banyak Pejabat-pejabat pemerintah di Situbondo yang terlihat mengalami ketakutan jika fakta-fakta sejarah tentang Besuki diketahui publik. Bahkan perlakuan mereka, masih menurut Ra Iik dianggap setengah hati mendukung perjuangan masyarakat Besuki dalam mengungkap kebenaran sejarah, menjaga serta melestarikannya. Hal ini menurutnya terbukti pada awal-awal proses penetapan hari jadi kota Besuki yang juga diinisiasi dan dimotorinya. Banyak sekali pertentangan dan sikap tidak mendukung yang ditunjukkan oleh oknum pejabat Pemkab Situbondo.

Kabupaten Situbondo adalah salah satu kabupaten yang lahir dari rahim Besuki, yang tanah kelahirannya adalah Besuki, yang masa bayinya masih di Besuki dan diasuh oleh Besuki, yang saat ini secara institusi pemerintahan berganti mengemban tanggung jawab sebagai pengasuh Besuki yang sudah tua, tentunya lebih banyak memiliki kesempatan merawat Besuki dibanding daerah lainnya. Namun hingga saat ini, perlakuan yang ditunjukkan Situbondo masih dianggap belum pantas dan dan jauh dari layak.

Lalu bagaimana dengan ketiga kabupaten lainnya? Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi yang dalam sistem pemerintahan sekarang sudah putus hubungan dengan Besuki, hampir bisa dipastikan tak lagi memikirkan untuk menjaga dan merawatnya. Bahkan disinyalir sudah mendekati melupakan Besuki sebagai Kota yang pernah menjadi orang tua mereka dalam format pemerintahan Regentschap (Kabupaten) dan Karesidenan.

Bila kita analogikan keempat kabupaten tersebut sebagai anak dari orang tua yang bernama Besuki, maka pertanyaannya adalah bagaimana bisa seorang anak tumbuh dan berkembang dengan baik bila kepada orang tua yang melahirkan, merawat, dan membesarkan menunjukkan sikap abai. Bagamaina mampu meraih kesuksesan yang bila orang tua yang melahirkan dan yang membesarkan diterlantarkan. Kita tentu meyakini bahwa bakti anak kepada orang tua adalah kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Lalu bagaimana wujud bakti dari sebuah institusi terhadap sesepuhnya? Pertama yang perlu diingat dan digaris bawahi adalah Besuki sebagai kota tua, sesepuh dari keempat kabupaten disekitarnya juga tidak akan berebut eksistensi dengan anak-anaknya. Kabar-kabar tentang Besuki yang akan memisahkan diri dari Situbondo untuk berdiri sebagai kabupaten sendiri hanyalah luapan emosional beberapa kalangan merespon sikap abai terhadap Besuki. Terkait hal ini, penulis justru berpendapat Besuki lebih layak dan lebih potensial menjadi pusat kota provinsi Tapal Kuda atau Provinsi Besuki, mengingat sejarah yang pernah menjadikan Besuki sebagai pusat kota Karesidenan. Tidak etis rasanya apabila orang tua harus berebut posisi eksistensi dengan anaknya. Karena itu pula Besuki harus diposisikan sebagai sesepuh yang harus diperlakukan dengan baik dan bijak.

Perlakuan bijak seorang anak kepada orang tuanya dalam konteks institusi tentu bisa dilakukan dengan beragam cara. Diantaranya yang terpenting adalah ikut mendorong pelestarian cagar budaya yang masih tersisa di Besuki agar segera mendapatkan payung hukum. Langkah penting lainnya adalah dengan memposisikan Besuki sebagai Etalase atau pusat kesejarahan, kesenian, dan kebudayaan yang berbenang merah dengan pemerintahan karesidenan pada masa kolonial.

Kita semua sebagai masyarakat Situbondo dan ke-tiga Kabupaten lainnya tentu berharap agar bisa menjadi anak yang berbakti kepada Besuki sebagai orang tua, dan tidak ingin terkategori sebagai anak yang durhaka karena telah bersikap abai dan menelantarkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *