Besuki, Culture Heritage of Tapal Kuda

Jadi dapat ditarik benang merah dari satu potret historitas bahwa Besuki sebaiknya mendapat tempat dalam kebijakan pemerintah setempat sebagai collective memory (memori bersama) yang dimiliki sebagian besar masyarakat. Bukan bermaksud menjadi egosentrisme dari gagal melihatnya peran daerah-daerah lain sebagai bagian penting terbentuknya suatu kejayaan daerah di masa penjajahan. Melainkan melihat Besuki sebagai bagian sejarah yang sangat penting bagi memori masyarakat. Untuk itu perlunya kesadaran semua elemen masyarakat terutama generasi muda agar terus menggali sejarah lokal Besuki sebagai warisan sejarah yang nilainya sangat tinggi.

Oleh: Aryni Ayu
(Penulis dan pegiat Sejarah kebudayaan)

Dalam politik memori, struktur pemerintahan selalu meninggalkan bagian bagian dari pemerintahannya. Menurut Pierre Nora dalam The lieux de mémoire (places of memory) (1989), seringkali generasi suatu bangsa akan melihat lingkup geografi, sejarah, sosial, dan ekonomi satu rangkaian cerita di satu situs tertentu. Adapun yang membedakan dari satu cerita itu lebih dititik beratkan pada perspektif dan pengetahuan orang atas situs tersebut. Besuki, adalah sebuah herritage, peninggalan kolonial yang meninggalkan banyak sekali memoir penting bagi generasi penerus yang terbentuk sebagai bangsa Indonesia. Bagi masyarakat lokal Besuki, keberadaan besuki pernah menjadi pusat bagi jalannya roda pemerintahan kolonial. Arnold Toynbee (Civilization of Trial, 1945) menyebut sebuah peradaban merupakan bentuk eksistensi manusia atau masyarakat untuk menjalani tradisi, dan tradisi dapat menjadi cheos (hancur) termakan oleh waktu, dan politik. Tentu tidak akan pernah menjadi prediksi jika dulunya keberadaan besuki sangat penting, sekarang tak lebih dari nama besar yang mulai dilupakan. Ada sebuah memori yang dinonaktifkan disini. Jika kita mau melihat peninggalannya berupa kantor kerisedanan di dekat terminal sekarang. Dapatlah sedikit kita berhayal tentang masa lalu bahwa kantor itu menjadi pusatnya data data penting bagi perusahaan perkebunan terbesar.

Bukti bukti sejarah menunjukkan, Besuki memang menjadi pusat penting bagi perusahaan yang pernah didirikan Belanda. Sejak tahun 1887 sampai 1950, dari bentuk kota Regentschap (Kabupaten), menjadi Karesidenan di tahun 1950. Perbedaannya, jika di tahun 1887 hingga sebelum runtuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia tahun 1942 Besuki berada dalam kategori the center of town karena kepentingan pengembangan produk produk perkebunan sampai tahun 1917. Maka di tahun selama dan setelah 1942, Besuki tidak lebih dari menjadi bagian dari penyerangan operatie product yang dilaksanakan Belanda dari ujung Barat Banten sampai ujung Timur Besuki (Military Justice in the Dutch East Indies, Steven van Den Bos, 2015). Bentuk dari Karesidenan adalah bentuk penghargaan yang diberikan kolonial atas peran besar Besuki saat menjadi pusat pemerintahan di bagian timur Jawa (Java Oosthoek).

Di tahun 1947, Besuki menjadi tempat yang tenang bagi para kontrolir Belanda untuk melaksanakan rapat rapat penting perkebunan dan sekedar bersantai. Hal ini dapat didasarkan pada catatan Van Baal dalam Ontglipt Verleden (1947), menyebutkan bahwa Besuki adalah tempat yang tenng dan memiliki kebijakan pemerintahan yang konstruk. Berdasarkan laporan Tweede Kamer (Dewan Belanda) (In Koloniaal Verslag Van, 1887), Jember, Besuki, dan Bondowoso pernah menjadi onderafdeling dari Besuki yang saat itu menjadi pusat kontrolir perusahaan perkebunan Belanda, bentuk pusat administrasi. Sama seperti Probolinggo yang membawahi onderafdeling Probolinggo, Loemadjang (Lumajang), Kraksaan. Sedangkan Surabaya mencakup Grissee (Gresik), Sidaijoe (Sidoarjo) en Lamongan, Sidoardjo, dan Modjokerto en Djombang. Jadi, posisi Besuki di tahun sebelum 1887 sampai sebelum 1950 adalah kabupaten (Regentschap) yang membawahi beberapa kawedanan. Banyuwangi menjadi Regentschap tersendiri sampai tahun 1950. Perlu diketahui, keuntungan dari Besoeki Tabak Maatshappij tahun 1915 mencapai 15.680.551 f (gulden) atau sekitar 2 milyar rupiah (De Graaf, Voor Handel en Maatschapppij : Geschiedenis van de Nederlandsche Handel Maatschappij 1824 1964, 1955).

Jadi dapat ditarik benang merah dari satu potret historitas bahwa Besuki sebaiknya mendapat tempat dalam kebijakan pemerintah setempat sebagai collective memory (memori bersama) yang dimiliki sebagian besar masyarakat. Bukan bermaksud menjadi egosentrisme dari gagalnya melihatnya peran daerah daerah lain sebagai bagian penting terbentuknya suatu kejayaan daerah di masa penjajahan. Melainkan melihat Besuki sebagai bagian sejarah yang sangat penting bagi memori masyarakat. Intuk itu perlunya kesadaran semua elemen masyarakat terutama generasi muda agar terus menggali sejarah lokal Besuki sebagai warisan sejarah yang nilainya sangat tinggi.

Menjadikan Besuki sebagai Collective Memory tentu sangat logis jika mengingat sejarah kota ini di masa lalu untuk kepentingan masa sekarang dan yang akan datang. Selain faktor sejarah, letak geografis Besuki yang berada di jalur pantura (jalur utama darat wisatawan Jogja-Bali) dan relatif memiliki kedekatan jarak dengan ke-empat kabupaten di sekitarnya adalah potensi besar untuk dikembangkan, minimal di sektor pariwisata sebagai basis informasi atau data kesejarahan maupun kebudayaan yang dimiliki masing-masing kabupaten.

Dari realitas realitas objektif yang tertulis di atas, tak heran jika kemudian di tengah-tengah masyarakat pegiat sejarah dan kebudayaan muncul tagline “Besuki, Culture Heritage of Tapal Kuda”. Beberapa kalangan bisa saja menganggap tagline tersebut ambisius karena melihat kondisi (peninggalan sejarah dan pembangunan) Besuki saat ini yang masih belum sejalan. Tetapi tagline yang sekaligus menjadi harapan besar dari putra daerahnya itu tentu juga tak bisa dianggap tidak mungkin terealisasi. Pergerakan aktifis-aktifis ini mungkin tak begitu tampak di permukaan, tapi perlu diketahui bahwa sebenarnya mereka melakukan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk mencapai apa yang dicita-citakan bersama.

Radar Besuki – Mengawal Negara dari Tapal Kuda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *